11/06/2010

shabran

untuk mengingatkan aku dan saudariku...


disadur dari materi untuk adik adikku



       Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)
Setiap mukmin digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai orang yang memiliki pesona, yang digambarkan dengan istilah ‘ajaban’. Pesona berpangkal dari adanya positif thinking seorang mukmin. Ketika mendapatkan kebaikan, ia refleksikan dalam bentuk syukur terhadap Allah swt. Karena ia paham, hal tersebut merupakan anugerah Allah. Dan tidaklah Allah memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, ia akan bersabar. Karena ia yakin, hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang ada rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah swt   

Pengertian Sabar
Sabar merupakan istilah dari bahasa Arab dan sudah menjadi istilah bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “shabara”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran“. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)
Perintah bersabar pada ayat di atas adalah untuk menahan diri dari keingingan ‘keluar’ dari komunitas orang-orang yang menyeru Rabnya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah swt.
Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.
Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam Al-Khawas, “Sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan. Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang).”
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Urgensi Kesabaran
Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran setengah keimanan. Sabar memiliki kaitan erat dengan keimanan: seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itu, Rasulullah saw. menggambarkan ciri dan keutamaan orang beriman sebagaimana hadits di atas.
Macam-Macam Sabar
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar itu terbagi menjadi tiga macam:
  1. Bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
  2. Bersabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah
  3. Bersabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang dialaminya, berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul di luar kekuasaan manusia ataupun yang berasal dari orang lain (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Sebab Meraih Kemuliaan
Di dalam Taisir Lathifil Mannaan Syaikh As Sa’di rahimahullah menyebutkan sebab-sebab untuk menggapai berbagai cita-cita yang tinggi. Beliau menyebutkan bahwa sebab terbesar untuk bisa meraih itu semua adalah iman dan amal shalih.
Di samping itu, ada sebab-sebab lain yang merupakan bagian dari kedua perkara ini. Di antaranya adalah kesabaran. Sabar adalah sebab untuk bisa mendapatkan berbagai kebaikan dan menolak berbagai keburukan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh firman Allah ta’ala, “Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).
Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan shalat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba bisa meraih kenikmatan abadi yaitu surga. Allah ta’ala berfirman kepada penduduk surga, “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).
Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.” (QS. Al Furqaan [25] : 75).
Selain itu Allah pun menjadikan sabar dan yakin sebagai sebab untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu kepemimpinan dalam hal agama. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala, “Dan Kami menjadikan di antara mereka (Bani Isra’il) para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan titah Kami, karena mereka mau bersabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah [32]: 24) (Lihat Taisir Lathifil Mannaan, hal. 375)

Sabar Dalam Ketaatan
1.       Sabar Dalam Menuntut Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.
Semoga Allah merahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, “Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatannya menuntut ilmu. Tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.” (Taisirul wushul, hal. 12-13)
2.       Sabar Dalam Mengamalkan Ilmu
Syaikh Nu’man mengatakan, “Dan orang yang ingin beramal dengan ilmunya juga harus bersabar dalam menghadapi gangguan yang ada di hadapannya. Apabila dia melaksanakan ibadah kepada Allah menuruti syari’at yang diajarkan Rasulullah niscaya akan ada ahlul bida’ wal ahwaa’ yang menghalangi di hadapannya, demikian pula orang-orang bodoh yang tidak kenal agama kecuali ajaran warisan nenek moyang mereka.
Sehingga gangguan berupa ucapan harus diterimanya, dan terkadang berbentuk gangguan fisik, bahkan terkadang dengan kedua-keduanya. Dan kita sekarang ini berada di zaman di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita, Dialah sebaik-baik penolong” (Taisirul wushul, hal. 13)
3.       Sabar Dalam Berdakwa
Syaikh Nu’man mengatakan, “Begitu pula orang yang berdakwah mengajak kepada agama Allah harus bersabar menghadapi gangguan yang timbul karena sebab dakwahnya, karena di saat itu dia tengah menempati posisi sebagaimana para Rasul. Waraqah bin Naufal mengatakan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidaklah ada seorang pun yang datang dengan membawa ajaran sebagaimana yang kamu bawa melainkan pasti akan disakiti orang.”
Sehingga jika dia mengajak kepada tauhid didapatinya para da’i pengajak kesyirikan tegak di hadapannya, begitu pula para pengikut dan orang-orang yang mengenyangkan perut mereka dengan cara itu. Sedangkan apabila dia mengajak kepada ajaran As Sunnah maka akan ditemuinya para pembela bid’ah dan hawa nafsu. Begitu pula jika dia memerangi kemaksiatan dan berbagai kemungkaran niscaya akan ditemuinya para pemuja syahwat, kefasikan dan dosa besar serta orang-orang yang turut bergabung dengan kelompok mereka.
Mereka semua akan berusaha menghalang-halangi dakwahnya karena dia telah menghalangi mereka dari kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan yang selama ini mereka tekuni.” (Taisirul wushul, hal. 13-14)
4.       Sabar dan Kemenangan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan sungguh telah didustakan para Rasul sebelummu, maka mereka pun bersabar menghadapi pendustaan terhadap mereka dan mereka juga disakiti sampai tibalah pertolongan Kami.” (QS. Al An’aam [6]: 34).
Semakin besar gangguan yang diterima niscaya semakin dekat pula datangnya kemenangan. Dan bukanlah pertolongan/kemenangan itu terbatas hanya pada saat seseorang (da’i) masih hidup saja sehingga dia bisa menyaksikan buah dakwahnya terwujud. Akan tetapi yang dimaksud pertolongan itu terkadang muncul di saat sesudah kematiannya. Yaitu ketika Allah menundukkan hati-hati umat manusia sehingga menerima dakwahnya serta berpegang teguh dengannya. Sesungguhnya hal itu termasuk pertolongan yang didapatkan oleh da’i ini meskipun dia sudah mati.
Maka wajib bagi para da’i untuk bersabar dalam melancarkan dakwahnya dan tetap konsisten dalam menjalankannya. Hendaknya dia bersabar dalam menjalani agama Allah yang sedang didakwahkannya dan juga hendaknya dia bersabar dalam menghadapi rintangan dan gangguan yang menghalangi dakwahnya. Lihatlah para Rasul shalawatullaahi wa salaamuhu ‘alaihim. Mereka juga disakiti dengan ucapan dan perbuatan sekaligus.
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah, tidaklah ada seorang Rasul pun yang datang sebelum mereka melainkan mereka (kaumnya) mengatakan, ‘Dia adalah tukang sihir atau orang gila’.” (QS. Adz Dzariyaat [51]: 52). Begitu juga Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan demikianlah Kami menjadikan bagi setiap Nabi ada musuh yang berasal dari kalangan orang-orang pendosa.” (QS. Al Furqaan [25]: 31). Namun, hendaknya para da’i tabah dan bersabar dalam menghadapi itu semua…” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)
5.       Sabar di atas Islam
Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus merasakan siksaan ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122). Ingatlah bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara yang sangat keji sehingga mati sebagai muslimah pertama yang syahid di jalan Allah. (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 122-123)
Lihatlah keteguhan Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang dipaksa oleh ibunya untuk meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya bersumpah mogok makan dan minum bahkan tidak mau mengajaknya bicara sampai mati. Namun dengan tegas Sa’ad bin Abi Waqqash mengatakan, “Wahai Ibu, demi Allah, andaikata ibu memiliki seratus nyawa kemudian satu persatu keluar, sedetikpun ananda tidak akan meninggalkan agama ini…” (Lihat Tegar di Jalan Kebenaran, hal. 133) Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan.
Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh salafush shalih dan para ulama pembela dakwah tauhid di masa silam.
Mereka disakiti, diperangi, didustakan, dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga yang dikucilkan. Ada yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidaklah menggoyahkan pilar keimanan mereka.
Ingatlah firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 102).
Ingatlah juga janji Allah yang artinya, “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya akan Allah berikan jalan keluar dan Allah akan berikan rezeki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Thalaq [65] : 2-3).
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Bersama kesempitan pasti akan ada jalan keluar. Bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan.” (HR. Abdu bin Humaid di dalam Musnadnya [636] (Lihat Durrah Salafiyah, hal. 148) dan Al Haakim dalam Mustadrak ‘ala Shahihain, III/624). (Syarh Arba’in Ibnu ‘Utsaimin, hal. 200)

Sabar Menjauhi Maksiat
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam muhkam al-Qur’an.
Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh Allah ke dalam lautan, ada pula yang binasa karena disambar petir, ada pula yang dimusnahkan dengan suara yang mengguntur, dan ada juga di antara mereka yang dibenamkan oleh Allah ke dalam perut bumi, dan ada juga di antara mereka yang di rubah bentuk fisiknya (dikutuk).”
Pentahqiq kitab tersebut memberikan catatan, “Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat, “Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 40).
“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta’ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.
Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan. Sebagaimana difirmankan Allah ‘azza wa jalla, “Sesungguhnya kebaikan-kebaikan akan menghapuskan kejelekan-kejelekan.” (QS. Huud [11] : 114). Dan juga sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya.” (HR. Ahmad, dll, dihasankan Al Albani dalam Misykatul Mashaabih 5043)…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)

Sabar Menerima Takdir
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah Bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta…” (Thariqul wushul, hal. 15-17)
Sabar dan Tauhid
Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala membuat sebuah bab di dalam Kitab Tauhid beliau yang berjudul, “Bab Minal iman billah, ash-shabru ‘ala aqdarillah” (Bab Bersabar dalam menghadapi takdir Allah termasuk cabang keimanan kepada Allah)
Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullahu ta’ala mengatakan dalam penjelasannya tentang bab yang sangat berfaedah ini, “Sabar tergolong perkara yang menempati kedudukan agung (di dalam agama). Ia termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia. Ia menempati relung-relung hati, gerak-gerik lisan dan tindakan anggota badan. Sedangkan hakikat penghambaan yang sejati tidak akan terealisasi tanpa kesabaran.
Hal ini dikarenakan ibadah merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu), atau bisa juga berupa ujian dalam bentuk musibah yang ditimpakan Allah kepada seorang hamba supaya dia mau bersabar ketika menghadapinya.
Hakikat penghambaan adalah tunduk melaksanakan perintah syari’at serta menjauhi larangan syari’at dan bersabar menghadapi musibah-musibah. Musibah yang dijadikan sebagai batu ujian oleh Allah jalla wa ‘ala untuk menempa hamba-hamba-Nya. Dengan demikian ujian itu bisa melalui sarana ajaran agama dan melalui sarana keputusan takdir.
Adapun ujian dengan dibebani ajaran-ajaran agama adalah sebagaimana tercermin dalam firman Allah jalla wa ‘ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits qudsi riwayat Muslim dari ‘Iyaadh bin Hamaar. Dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Allah ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengutusmu dalam rangka menguji dirimu. Dan Aku menguji (manusia) dengan dirimu’.”
Maka hakikat pengutusan Nabi ‘alaihish shalaatu was salaam adalah menjadi ujian. Sedangkan adanya ujian jelas membutuhkan sikap sabar dalam menghadapinya. Ujian yang ada dengan diutusnya beliau sebagai rasul ialah dengan bentuk perintah dan larangan.
Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan) tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Oleh sebab itulah sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya sabar terbagi tiga; sabar dalam berbuat taat, sabar dalam menahan diri dari maksiat dan sabar tatkala menerima takdir Allah yang terasa menyakitkan.”
Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup bersabar tatkala tertimpa musibah maka Syaikh pun membuat sebuah bab tersendiri, semoga Allah merahmati beliau. Hal itu beliau lakukan dalam rangka menjelaskan bahwasanya sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah.
Ungkapan rasa marah dan tak mau sabar itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah beliau membuat bab ini, untuk menerangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu beliau juga ingin memberikan penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan hukumnya juga wajib.
Secara bahasa sabar artinya tertahan. Orang Arab mengatakan, “Qutila fulan shabran” (artinya si polan dibunuh dalam keadaan “shabr”) yaitu tatkala dia berada dalam tahanan atau sedang diikat lalu dibunuh, tanpa ada perlawanan atau peperangan. Dan demikianlah inti makna kesabaran yang dipakai dalam pengertian syar’i.
Ia disebut sebagai sabar karena di dalamnya terkandung penahanan lisan untuk tidak berkeluh kesah, menahan hati untuk tidak merasa marah dan menahan anggota badan untuk tidak mengekspresikan kemarahan dalam bentuk menampar-nampar pipi, merobek-robek kain dan semacamnya. Maka menurut istilah syari’at sabar artinya: Menahan lisan dari mengeluh, menahan hati dari marah dan menahan anggota badan dari menampakkan kemarahan dengan cara merobek-robek sesuatu dan tindakan lain semacamnya.
Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”
Perkataan beliau “Bab Minal imaan, ash shabru ‘ala aqdaarillah” artinya: salah satu ciri karakteristik iman kepada Allah adalah bersabar tatkala menghadapi takdir-takdir Allah. Keimanan itu mempunyai cabang-cabang. Sebagaimana kekufuran juga bercabang-cabang.
Maka dengan perkataan “Minal imaan ash shabru” beliau ingin memberikan penegasan bahwa sabar termasuk salah satu cabang keimanan. Beliau juga memberikan penegasan melalui sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang menunjukkan bahwa niyaahah (meratapi mayit) itu juga termasuk salah satu cabang kekufuran. Sehingga setiap cabang kekafiran itu harus dihadapi dengan cabang keimanan. Meratapi mayit adalah sebuah cabang kekafiran maka dia harus dihadapi dengan sebuah cabang keimanan yaitu bersabar terhadap takdir Allah yang terasa menyakitkan” (At Tamhiid, hal.389-391)

Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri, terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur’an, baik berbentuk isim maupun fi’ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah swt.
1. Sabar merupakan perintah Allah. “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153). Ayat-ayat yang serupa Ali Imran: 200, An-Nahl: 127, Al-Anfal: 46, Yunus: 109, Hud: 115.
2. Larangan isti’jal (tergesa-gesa). “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…” (Al-Ahqaf: 35)
3. Pujian Allah bagi orang-orang yang sabar: “…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah: 177)
4. Allah akan mencintai orang-orang yang sabar. “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)
5. Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. “Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)
6. Mendapatkan pahala surga dari Allah. (Ar-Ra’d: 23 – 24)

Kesabaran Sebagaimana Digambarkan Dalam Hadits
Sebagaimana dalam Al-Qur’an, dalam hadits banyak sekali sabda Rasulullah yang menggambarkan kesabaran. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar:
1. Kesabaran merupakan “dhiya’ ” (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah mengungkapkan, “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” (HR. Muslim)
2. Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimal. Rasulullah pernah menggambarkan: “…barang siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…” (HR. Bukhari)
3. Kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik. Rasulullah mengatakan, “…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (Muttafaqun Alaih)
4. Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mukmin, sebagaimana hadits yang terdapat pada muqadimah; “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya.” (HR. Muslim)
5. Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga. Dalam sebuah hadits digambarkan; Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku gantikan surga baginya’.” (HR. Bukhari)
6. Sabar merupakan sifat para nabi. Ibnu Mas’ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Dari Abdullan bin Mas’ud berkata”Seakan-akan aku memandang Rasulullah saw. menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudia ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, ‘Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari)
7. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah pernah menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari)
8. Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah menggambarkan dalam sebuah haditsnya; Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullan saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)
9. Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian. Rasulullah saw. mengatakan; Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, ‘Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik untukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari Muslim)

Kiat-kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran
 (baca; isti’jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang harus diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif pada amal. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan melaksanakan ibadah. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat guna meningkatkan kesabaran. Di antaranya:
1. Mengikhlaskan niat kepada Allah swt.
2. Memperbanyak tilawah (membaca) Al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan.
3. Memperbanyak puasa sunnah. Puasa merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.
4. Mujahadatun nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat untuk mengalahkan nafsu yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, dan kikir.
5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna.
6. Perlu mengadakan latihan-latihan sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi, misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah.
7. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi’in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya.





11/04/2010

Gelombang siaran Inspirasi ' Sejuta Makna Sejuta Inspirasi"







(saatnya jadi penyiar)
Selamat malam sahabat, kembali bersama saya selama 1 interval kedepan akan menemani sahabat semua menjelajahi dunia mimpi. So siapkan beberapa perlengkapan bermimpi sahabat.diantanya putar nasyid yang mengugah semangat, kedua sediakan pikiran anda bersama saya dan siap melakukan perjalanan
Oke siap…
 Mari kita masuki dunia mimpi


.sahabat…….. mimpi adalah sebuah modal awal memulai sebuah perjalanan , sahabatku …. mimpi adalah sebuah energi, sahabat aku mengajakmu untuk bermimpi bersama selagi kita mampu bermimpi.

Sahabat ..kesuksesan seseorang juga berawal dari mimpi, yang kemudian tumbuh menjadi energi yang besar, energi yang secara akal mungkin tak terukur, tapi sahabat sendiri yang akan merasakannya sendiri
Sahabat, bermimpi bukanlah  ajang membuang waktu tapi ajang merajut masa depan , bermimpi bukan menyimpan angan-angan tapi pemanas kendaraan kehidupan kita, bermimpi bukan buang modal tapi menanam saham , bermimpi adalah adalah bagian yang tak bisa terpisah dalam kehidupan kita, seperti halnya dirimu dan bayanganmu, bermimpi adalah tanah yang kau pijak, bukan ujung langit yang kau sentuh. Mimpi adalah motivasimu.
Ada banyak kisah penuh inspirasi yang akan saya bagikan
( masih ada kan sahabat disana, semoga masih setia mendengarkan penyiar amatir ini  , karena nampaknya ini akan panjang sekali)
Kisah ini datang dari seorang gadis yang punya mimpi besar ,mimpi untuk bisa menembus ketidakmampuannya. Melalui kuasa Allahlah dia mengenal namanya sebuah semangat dan keoptimisan dibalik kehidupan yang menghimpitnya dan dibalik derai air mata yang menghiasi hari-harinya, tapi dia tak mengenal putus asa,yang ada adalah semangat dan modalnya yakin pada janji Allah. Bahwa Allah akan membukakan jalan bagi hambanya  , jika ia yakin pada kuasa dan kebesaran dan yakin bahwa allah akan menyertainya. Itulah modal yang ia punya.
Saat itu ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas, sejak masuk sekolah menengah atas , ia bertekad untuk bermujahadah dengan pendidikannya, sebuah hidayah datang saat ia membaca sebuah buku , tidak ada ruang baginya untuk bermaksiat dengan hal kecil seperti mencontek karena nyatanya itu adalah bibit dari segala korupsi, dan sama saja dengan mengurangi keberkahan itu berarti  mencuri. Tak mudah menjaga keputusan seperti itu, omongan teman dibelakang dan lain hal yang cukup menyayat batin, tapi pendiriannya kokoh. Hingga Allah meneguhkannya  satu demi satu mimpinya tercapai, prestasi mulai tergores dalam sejarahnya. Segala puji bagi Allah yang Maha Berhendak atas apa yang terjadi pada Hambanya.
Allah menguji gadis itu dengan himpitan ekonomi, tak jarang ia harus menahan keinginannya yang tak seperti orang lain, yah tak seperti orang lain, yang setiap keinginannya bisa langsung terpenuhi. Ia harus menahan dan bersabar , dan ia tahu bahwa allah sedang menyiapakan sesuatu di luar dugaanya, dia tahu bahwa  ini adalah bagian yang harus ia lewati,ini adalah episode yang mau tidak mau pasti ia lewati dengan semangat ia lalui hari-hari, sambil terus memohon dan meminta pada allah.
Sejak dIa masuk Sekolah dia mengenal yang namanya bermimpi. Dia punya cita-cita meski dalam kondisi sulit tak seorang pun yang mampu menghalangi dirinya untuk bermimpi. Ia rajut satu demi satu mimpinya, tak sedikit air matanya mengalir untuk mimpinya ini.semangatnya selalu berkobar.
Waktu pun berlalu, allah pun menyiapkan paketan ujiannya yaitu solusinya atas kesulitan ekonomi yang dihadapi, ia hantarkan pada salah satu lembga beasiswa, dari situlah ia mengenal yang namanya indahnya menuntut ilmu agama, meracik mimpi, tak sekedar uang beasiswa yang ia dapat tapi juga soft skill lainnya. Ia mengenal yang namanya mimpi lagi.
Hidupnya jadi berwarna , bahkan semakin penuh warna, semakin kuatlah azam yang mengalir dalam dadanya, semakin kuat keinginannya menembus gelapnya kabut kehidupan. Sejak kecil cita-citanya hanya satu, hanya setia satu untuk menjadi seorang guru, tidak muluk-muluk ,dan juga dia tetap dalam keinginannya meski orang berkata buruk tentang masa depan seorang guru yang gajinya kecil. Ia melihat betapa menjadi seorang guru itu luar biasa, amalan pahalanya akan terus mengalir, waktunya banyak juga dibagikan untuk berbagi, waktunya bisa banyak dihabiskan untuk mengurus suami dan anak-anak dirumah, menjadi guru bisa menjadi seorang yang jasanya akan senantiasa terkenang, betapa mulia menjadi guru, jadi seorang guru akan punya tabungan untuk masa depan anak-anaknya kelak.Mimpi itu kuat mengazam dalam pikiran dan dada, dan disela  doa, ia sematkan satu permintaan itu pada Allah.
Bersama salah satu sahabatnya ia bercerita tentang keinginanya untuk bisa kuliah , bersamanya dia yang sama diberi ujian yang sama , terhambat masalah ekonomi, mereka terus merajut asa dan harapan itu setinggi mungkin , meski pada akhirnya menuai luka, gadis itu mengutarakan keinginannya , mimpinya yang terasa begitu sulit untuk dicapai, jangankan untuk bisa kuliah , untuk makan dan kebutuhan lainnya saja terasa terseok. Tapi ia dengan hati-hati berkata mimpinya itu untuk bisa kuliah pada orang tuanya, sungguh kebahagian orang tua adalah melihat anaknya bahagia, melihat anaknya mengapai apa yang ia inginkan, pada Allah ia menggantungkan asa kepedihan hidup yang ia rasa , pada Allah ia mengadu atas ketidakmampuannya itu, atas seizin allah gadis itu masih semangat  untuk meraih mimpinya.
Cerita masih berlanjut
Beranjak dikelas tiga dia mulai ancang –ancang , selasai ujian ia siapkan rencana, dia pasang target, pertama dia mengikuti PMDk upi untuk menjadi seorang guru biologi, dengan uang seadanya ia urus ini dan itu,uang yang  hanya cukup untuk bisa ikut, sebelumnya ia ditawari untuuk ikutan beasiswa pasim , tapi pilihan itu ia tolak, karena mimpinya hanya jadi guru, ia gunakan uang beasiswanya untuk mengikuti PMDK itu, ia urus kesana kemari, meski masih saja orang tua tak mendukung, karena tak tahu dari mana uang itu akan ada, dan kekhawatiran dari mana harus membiayai itu semua, tapi gadis itu yakin bahwa  Allah tak akan membiarkan dirinya , allah itu Maha Kaya , sungguh gadis itu hanya yakin pada Allah. Dan ia yakinkan hal itu pada orang tuanya akan hal itu, sambil terus melangkah mengapai mimpinya. Namun Allah punya rencana lain , ternyata ia gagal dalam seleksi PMDK, akhirnya ia masuk ke rencana ke dua ikut beasiswa yang ada di IPb, tapi kandas, tak ada uang untuk itu, untuk ia mengikuti program itu , pedih rasanya saat mimpi itu lagi lagi gagal, masih bertahan dengan apa yang ia miliki, yaitu keyakinannya pada Allah dan mimpinya, saat itu diujung keputus asaan, masih ada beasiswa talents scouting , setelah sampoerna juga tidak lolos. Tak sedikit hambatan yang ia hadapi utnuk mengurusi beasiswa ini, mulai dari uang cerak foto yang habis, sampai mengurusi surat ke desa pun susah, tapi masih ada sisa semangat, setelah terbantai semua targetannya gagal, targetan yang sejak kecil cita-citanya ingin menjadi seorang guru kandas ditengah jalan, saat dibuka pendaftaran untuk menjadi seorang guru tak bisa ia penuhi, karena keterbatasan ekonomi, pilu hatinya , karena mimpi yang ia taruh itu tak bisa ia capai, melalui beasiswa inilah ia taruh sisa mimpinya.
Waktu tiga bulan kosong, ia pikirkan lebih baik ia isi dengan mencari pekerjaan. Ia berjualan pin dari satu kelas ke kelas lain. Dengan sedikit bersembunyi karena takut ketahuan pihak sekolah, jika ia berjualan dalam lingkungan sekolah tanpa izin. ia kumpulkan keuntungannya untuk melancarkan targetannya mengikuti SNMPTN , dan dalam waktu 4 hari dari hasil berdagang ia mengumpulkan uang seratus ribu rupiah,
Ah sahabat…apa yang selanjutnya dengan gadis ini??
Nanti kan dalam siaran pancaran gelombang semangat di jam yang sama di hari yang sama , bersama yucan disini yang masih semangat berbagi cerita dan inspirasi untukmu …

Sejuta makna sejuta inspirasi …sampai nanti di pancaran gelombang pebuh inspirasi dan semangat …

~penyiar amatir masih belebotan-_-a~ hehe
Rahayu cita-cita jadi penyiar

Bangunlah jiwa yang terlelap


Bismillahirrahmanirrahim…
Sahabat..
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesempatan tinta inspirasi  menorehkan hikmahnya kembali disini, di blog tempat aku menikmati indahnya berbagi inspirasi
Segala sesuatu datang atas seizin Allah , apa yang terjadi tidaklah luput dari pegawasan allah, karena Allah Mahatahu, dan Mahamelihat
Hai orang-orang yang beriman , bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yangbenar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang amat besar (33: 70-71)
Keimanan seseorang akan mempengaruhi kondisi seseorang, ketika keimanan dalam keadaan stabil, maka aktivitasnya akan menjadi energi untuk dirinya sendiri, begitu juga sebaliknya ketika ruhani dalam keadaan tidak stabil, lihatlah apa yang terjadi, kegelisahan menhantui, takut akan hilangnya nikmat dunia, lebih takut jika semua titipan allah hilang dibanding pada allah sendiri, selain itu efek terberat justru hatinya sakit. Pada akhirnya tak ada “ruh’ ketika beribadah, semuanya jadi sebatas pengugur kewajiban saja, amalannya tak mampu menghantarkan ia pada kehidupan sakinah, amalanya tak mampu menghantarkan dirinya pada Sang Khalik.
Beruntungnya orang yang masih dalam perhatian dan pengawasan Allah . Ketika Allah menguji dengan sedikit ketakutan , kelaparan dan kemiskinan, maka kau tak perlu takut bahwa Allah sesungguh masih memperhatikanmu, masih menempamu untuk menjadi pribadi yang punya integritas , miliitansi , komitmen dan  tentunya pantas mendapatkan cinta Allah, perjalanan panjang dengan segala rintanngannya akan mampu menghantarkan pada indahnya cinta Allah.
Teringat sebuah perkataan yang aku utarakan pada adik binaan, sejauh mana kita memposisikan tuhan kit, Allah dalam hati kita, jangan –jangan kita menempatkannya dalam urutan kedua setelah , orang lain yang kita sayangi atau kita cintai , atau bahwakan kita tak menempatkannya sama sekali, ataukah kita telah lalai tentang itu..pada Allah selalu ada untuk kita, Dia yang pali setia mendengarkan kita, setia dan tak bosan dengar keluhan kita, dialah yang selalu menunggu kita, untuk meminta padaNya. Dialah yang paling setia dibanding orang-orang yang setiap saat kau mintai bantuan ,pada manusia akan menemukan kebosan kita dengar segala keluhan kita, air mata kita, tapi Allah!, tak ada kata bosan, tak ada kata khianat, tak ada kata jenuh , yang ada kebahagiaan karena Allah tak sedikit pun akan menghianati kita.
Maka dimanakah Allah dalam kehidupan kita??
Bangunglah wahai hati yang terlelap dan lupa akan hal itu..
Bangunlah hati yang diam
Jika ingin tahu dimana kedudukan kita dalam sisi allah, lihatlah dimanakah kita menempatkan posisi allah dalm kehidupan kita, maka ketika kita menempatkan di urutan terbawah , maka disitulah Allah menempatkan kita.
Maka Bangunlah jiwa yang terlelap…
Tidak ada perniagaan yang sia-sia dengan Allah, Allah menawarkan keuntungan yang luar biasa, eksistensiNya sebagai Yang Mahabesar jelaslah tentunya. Yang mana yang dikejar, akhiratkah, maka allah akan memberikannya beserta dunia yang akan mengikuti, ataukah dunia dan kau akan mendapatkannya, sedangkan akhirat tak akan mengikuti.
Maka bangunlah jiwa yang terlelap
Sadar bahwa dunia hanya permainan sesaat, hanya empat singgah sejenak untuk melanjutkan perjalanan yang jauh lebih abadi, lebih indah tawarannya dari yang ini. jika saja ini mempu membangunkan jiwa yang lupa, jiwa yang lalai.
Maka Bangunlah jiwa yang lupa

Sahabat..jika saja tulisan ini hanya kata yang biasa yang melintas maka semoga allah yang akan mampu mengazamkan pada hatiku, hatimu agar tersadar dan terbangun.
Sahabat aku bukan penulis ulung , aku hanya ingin menjadikan ini sebgai tempat aku membagikan inspirasi ilmu , yang mungkin sebenarnya sahabat yang lebih banyak.

~setiap torehan ku mungkin biasa , semoga Allah yang mampu mengazamkan makna yang ingin disampaikan~

Rahayu yucanaza
Kata motivasi hari ini
Tetap menatap penuh energi
Semoga allah mengokohkan langkahku

Disiplinkan Diri




semangat jadi lebih baik
yucan 
yucan

Tak Ada Cinta Hingga Akad




tak memberi ruang untuk itu
jika  ingin merasakan manisnya
jangan membuka pintu  hati
jika kau menginginkan yang terbaik
bukankah wanita yang baik untuk laki-laki yang baik
waktu itu akan datang
ketika akad menjelang 
yang jadi pemilik sah atas kemuliaan hati
dialah yang pantas atas hati yang terjaga 
maka jangan ucapkan cinta
sebelum akad menggema



~MengingatkanHati~
Rahayu moga kau istiqomah


Menjadi yang Disyukuri Keberadaanya.

Peristiwa beberapa hari ini mengingatkan aku pada statement yang keluar dari Mr ku. waktu pertemuan yang cukup lama ntah kapan pastinya, waktu itu kita membahas mengenai masalah akhwat , tema yang paling aku senangi. betapa beruntungnya kita terlahir sebagai akhwat ( yang ikhwan jangan merasa rugi ya hehe.. ) wanita dilihat dari kedudukannya, betapa kita punya peran yang tak biasa. jelas penting kita mengetahui peran kita, mengingat kita tidak hanya akan mengurusi diri kita sendiri.
Menyambung judul di atas tentu ada keterkaitannya, mengapa perlu seorang akhwat mengetahui, perannya, kewajibannya, haknya untuk bisa menjadi manfaat keberadaannya, baik oleh orang tua , kakak, adik , mertua , suami ( buat yang udah nikah...aku ntar nyusul yang ini mah ...^^V) dan lingkungan yang ada disekitar kita. untuk itu semua, aku pribadi masih tahap belajar, belajar untuk menjadi pribadi yang disyukuri keberadaanya, rasa-rasanya rugi jika kita menjadi pribadi yang makruh.., belajar lebih baik lagi, sedikit demi sedikit, untuk menjadi muslimah yang keberadaanya disyukuri. tak sedikit ukh, yang akan kita temui,seperti  ketika teori tak sejalan dengan aplikasi, atau hambatan yang lainnya, menjadi pribadi yang disyukuri tentu punya nilai lebih untuk bisa itu . akan ada proses menempa diri, evalusi, menambah khasanah intelektual. dan lain halnya.
tak akan pernah bosan ketika kita mengungkap mengenai masalah akhwat.

apakah kita telah menjadi pribadi yang disyukuri keberadaanya???mari kita cek lewat jendela hati , tanya pada diri sendiri , sejauh mana mampu memberi warna untuk yang lain..heheh ini sendiri pengingat tajam untuk aku pribadi.. 



~SaatnyaBerubah~

Yucanaza. be mujahidah

11/03/2010

The Bala-bala Cuap-Cuap

heum..heumm..
banyak sekali ide -ide yang terpending buat aku tulis..
nampaknya memang belum waktunya tulisan itu tersemat dalam entri di dasborku.( Kepalaku sedikit pusing menahan ngantuk saat tulisan ini di buat), setelah sukses begadang dengan tugas -tugas tersayang, kini aku sempatkan mengutak ngatik blog. lumyan lah nambah widget 3 biji..ngeramein..

beberapa kasus, tepatnya episode hidup paling menyedihkan berturut- turut datang, banyak pelajaran dan hikmah yang diambil,ga cuma itu , jadi bahan evaluasi juga, ( kepala makin sakit,,,moga jadi pengugur dosa),
mulai merenovasi HRD hidup, manajemen waku, kegiatan, pikiran dan keuangan.
pekan ini aku mulai mengajar lagi, dan jaraknya dasyat jauhhhh tenann..tapi yah...ini pun pasti akan bentrok dengan agenda sana sini. nah loh...siap-siap dah ni mah efek sampingnya.. wal hasil harus lebih profesional  menjadi manager, tepatnya managerself

beberapa cangkir kopi tiap malam nampaknya dah ga mempan buat mata tetep on kaya lampu, yang ada tidur , bangun, tidur bangun, tapi tetep alhamdulillah rampung tiap tugas yang ada.harus semangatlah..

heum ...semangat yucan ...yucan yucan..(rahaYU CAN)

"jadi orang beda , biar ga sama. berkarakter dan berkesan, meninggalkan jejak dalam hidup.."

subhanallah ya..beginilah hidup
tinggal pilih mau mewarnai pake apa
sabarkah...
syukurkah...
menggerutukah....
optimiskah....
semangatkah...
lesukkah...
dll kah...
tinggal pilih ...

Siap-siap buat tulisan yang terpending
tulisan berseri...
petualang di kota mati
dan khusus buat akhwat
ntah kapan dah itu rampung..
moga secepatnya...


Kata Motivasi hari ini

PERBAIKI YANG TERSISA SEMOGA ALLAH MEMPERBAIKI YANG LALU




~HEumIntermezoSenutSenutKepala~
Rahayu Yucan
dalam retorika hidup

Tiada beban tanpa pundak

apa jadinya kalau orang lagi kesemsem..nah sekarang aku lagi kesemsem nasyid  ini, ckckck...

" TIADA BEBAN TANPA PUNDAK "


Terasa menyesakkan semua yang telah terjadi
Apa yang ku banggakan kini tinggal cerita
Kau uji aku...
Sekilas aku rasa tak kuasa
Namun kusadari dan aku mengerti kuserahkan pada MU



Takkan aku bertanya mengapa harus terjadi
Karna aku yakini tak ada beban tanpa pundak
Kau uji aku karna ku bisa melewatinya
Ini yang terbaik bagi hidupku.. semua hanya ujian
 

Reff :
Biarkan aku oh malam...
Menangis di sepanjang sholatku
Karna hanya Allah yang bisa membuatku tegar
Menjalani semua ini..

Biarkan aku oh malam...
Bersimbah Rahmat dan ampunanNya
Badaipun pasti berlalu menguji imanku
Aku serahkan pada Illahi..

11/02/2010

Kenapa harus kimia???

ah..ntah kenapa pilihan jatuh pada kimia, awalnya begitu aku berat melewati perkuliahan kimia, namun nyatanya kimia memberikan efek penasaran dalam hidupku, dan malah menimbulkan kesyukuran. untuk awalnya aku sering menggerutui kimia, karena pusing, dan memang membingungkan, namun aku menemukan sesuatu yang menarik, yang tak bisa aku gambarkan lewat kata, aku menemukan keindahan dan keajaiban dalam setiap yang aku temui dalam praktikum, meski belibet, tapi kimia menantangku, dan aku menantangmu untuk aku jelajahi dunia kimia, dulu aku menaruh benci, tapi sekarang tumbuh cinta pada kimia.
menambah khasanah iintelektualku tentang kimia, yang ga cuma sekedar larutan ama larutan, aku juga pengen tahu sejarah islam tentang perkimiaan ini...

JABIR IBNU HAYYAN , PENEMU ILMU KIMIA
Ilmu kimia di kemudian hari berkembang sangat pesat dan dikenal banyak orang. Tapi, hanya sedikit yang tahu siapa sejatinya orang pertama yang menemukan ilmu eksakta tersebut. Adalah Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan (721-815 H), ilmuwan Muslim pertama yang menemukan dan mengenalkan disiplin ilmu kimia tadi.
Lahir di kota peradaban Islam klasik, Kuffah (Irak), ilmuwan Muslim ini lebih dikenal dengan nama Ibnu Hayyan. Sementara di Barat ia dikenal dengan nama Ibnu Geber. Ayahnya, seorang penjual obat, meninggal sebagai 'syuhada' demi penyebaran ajaran Syi'ah. Jabir kecil menerima pendidikannya dari raja bani Umayyah, Khalid Ibnu Yazid Ibnu Muawiyah, dan imam terkenal, Jakfar Sadiq. Ia juga pernah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Harun Al Rasyid.
Ditemukannya kimia oleh Jabir ini membuktikan, bahwa ulama di masa lalu tidak melulu lihai dalam ilmu-ilmu agama, tapi sekaligus juga menguasai ilmu-ilmu umum. "Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan sumbangannya yang terbesar di bidang kimia," tulis sejarawan Barat, Philip K Hitti, dalam History of The Arabs. Berkat penemuannya ini pula, Jabir dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern.
Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Pada masamasa inilah, ia banyak mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru di sekitar kimia. Berbekal pengalaman dan pengetahuannya itu, sempat beberapa kali ia mengadakan penelitian soal kimia. Namun, penyelidikan secara serius baru ia lakukan setelah umurnya menginjak dewasa.
Dalam penelitiannya itu, Jabir mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. Jabir mempunyai kebiasaan yang cukup konstruktif mengakhiri uraiannya pada setiap eksperimen. Antara lain dengan penjelasan : “Saya pertamakali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam “. 
Dari Damaskus ia kembali ke kota kelahirannya, Kuffah. Setelah 200 tahun kewafatannya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya yang telah punah, ditemukan. Di dalamnya didapati peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona, dan sebatang emas yang cukup berat.
Teori Jabir
Pada perkembangan berikutnya, Jabir Ibnu Hayyan membuat instrumen pemotong, peleburan dan pengkristalan. Ia menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi.
Semua ini telah ia siapkan tekniknya, praktis hampir semua 'technique' kimia modern. Ia membedakan antara penyulingan langsung yang memakai bejana basah dan tak langsung yang memakai bejana kering. Dialah yang pertama mengklaim bahwa air hanya dapat dimurnikan melalui proses penyulingan.
Khusus menyangkut fungsi dua ilmu dasar kimia, yakni kalsinasi dan reduksi, Jabir menjelaskan, bahwa untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda penguapan, sublimasi, destilasi, penglarutan, dan penghabluran.
Setelah itu, papar Jabir, memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap tidak berubah sejak awal abad ke 18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen. Metode inilah yang mengantarkannya menjadi ilmuwan besar Islam yang mewarnai renaissance dunia Barat.
Namun demikian, Jabir tetap saja seorang yang tawadlu' dan berkepribadian mengagumkan. "Dalam mempelajari kimia dan ilmu fisika lainnya, Jabir memperkenalkan eksperimen objektif, suatu keinginan memperbaiki ketidakjelasan spekulasi Yunani. Akurat dalam pengamatan gejala, dan tekun mengumpulkan fakta. Berkat dirinya, bangsa Arab tidak mengalami kesulitan dalam menyusun hipotesa yang wajar," tulis Robert Briffault.
Menurut Briffault, kimia, proses pertama penguraian logam yang dilakukan oleh para metalurg dan ahli permata Mesir, mengkombinasikan logam dengan berbagai campuran dan mewarnainya, sehingga mirip dengan proses pembuatan emas. Proses demikian, yang tadinya sangat dirahasiakan, dan menjadi monopoli perguruan tinggi, dan oleh para pendeta disamarkan ke dalam formula mistik biasa, di tangan Jabir bin Hayyan menjadi terbuka dan disebarluaskan melalui penyelidikan, dan diorganisasikan dengan bersemangat.
Terobosan Jabir lainnya dalam bidang kimia adalah preparasi asam sendawa, hidroklorik, asam sitrat dan asam tartar. Penekanan Jabir di bidang eksperimen sistematis ini dikenal tak ada duanya di dunia. Inilah sebabnya, mengapa Jabir diberi kehormatan sebagai 'Bapak Ilmu Kimia Modern' oleh sejawatnya di seluruh dunia. Dalam tulisan Max Mayerhaff, bahkan disebutkan, jika ingin mencari akar pengembangan ilmu kimia di daratan Eropa, maka carilah langsung ke karyakarya Jabir Ibnu Hayyan.
Puaskah Jabir? Tidak! Ia terus mengembangkan keilmuannya sampai batas tak tertentu. Dalam hal teori keseimbangan misalnya, diakui para ilmuwan modern sebagai terobosan baru dalam prinsip dan praktik alkemi dari masa sebelumnya. Sangat spekulatif, di mana Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem numerologi (studi mengenai arti klenik dari sesuatu dan pengaruhnya atas hidup manusia) yang diterapkannya dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi. Sistem ini niscaya memiliki arti esoterik, karena kemudian telah menjadi pendahulu penulisan jalannya reaksi kimia.
Jelas dengan ditemukannya proses pembuatan asam anorganik oleh Jabir telah memberikan arti penting dalam sejarah kimia. Di antaranya adalah hasil penyulingan tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan asam sulferik. Pelbagai jenis asam diproduksi pada kurun waktu eksperimen kimia yang merupakan bahan material berharga untuk beberapa proses industrial. Penguraian beberapa asam terdapat di dalam salah satu manuskripnya berjudul Sandaqal-Hikmah  (Rongga Dada Kearifan) .
Seluruh karya Jabir Ibnu Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang sampai pada zaman Renaissance. Korpus studi kimia Jabir mencakup penguraian metode dan peralatan dari pelbagai pengoperasian kimiawi dan fisikawi yang diketahui pada zamannya. Di antara bukunya yang terkenal adalah Al Hikmah Al Falsafiyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul SummaPerfecdonis.
Suatu pernyataan dari buku ini mengenai reaksi kimia adalah: "Air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap. Yang benar adalah bahwa, keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama. Jika dihendaki memisahkan bagianbagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka akan tampak bahwa tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik dari masing-masing unsur."
Ide-ide eksperimen Jabir itu sekarang lebih dikenal/dipakai sebagai dasar untuk mengklasifikasikan unsur-unsur kimia, utamanya pada bahan metal, nonmetal dan penguraian zat kimia. Dalam bidang ini, ia merumuskan tiga tipe berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya:
  1. Air (spirits), yakni yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan camphor, arsenik dan amonium klorida, 
  2. Metal, seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi, dan 
  3. Bahan campuran, yang dapat dikonversi menjadi semacam bubuk.
Sampai abad pertengahan risalah-risalah Jabir di bidang ilmu kimia --termasuk kitabnya yang masyhur, yakni Kitab Al-Kimya dan Kitab Al Sab'een, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Kitab Al Kimya bahkan telah diterbitkan oleh ilmuwan Inggris, Robert Chester pada 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy. Sementara buku kedua Kitab Al Sab'een, diterjemahkan oleh Gerard Cremona.
Berikutnya di tahun 1678, ilmuwan Inggris lainnya, Richard Russel, mengalihbahasakan karya Jabir yang lain dengan judul Summa of Perfection. Berbeda dengan pengarang sebelumnya, Richard-lah yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber, dan memuji Jabir sebagai seorang pangeran Arab dan filsuf. Buku ini kemudian menjadi sangat populer di Eropa selama beberapa abad lamanya. Dan telah pula memberi pengaruh pada evolusi ilmu kimia modern.
Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah; Kitab al Rahmah, Kitab al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance (ketiga buku terakhir diterjemahkan oleh Berthelot). "Di dalamnya kita menemukan pandangan yang sangat mendalam mengenai metode riset kimia," tulis George Sarton. Dengan prestasinya itu, dunia ilmu pengetahuan modern pantas 'berterima kasih' padanya. []

Reffenrensi : http://rumahislam.com/tokoh/3-ilmuwan/595--jabir-ibnu-hayyan-penemu-ilmu-kimia.html



kini aku berharap, semoga kimia ini jadi ilmu yang bermanfaat untuk dunia akhirat, meski sampai sekarang masih tak percaya kenapa harus kimia.ckckc..
suatu hari nanti mungkin aku akan tahu maksud allah mengantarkan aku pada kimia.

Perniagaan Yang terlalaikan