9/06/2011

Kenapa Ya Resah Gelisah Gini?


" Wah hati saya tak tenang???gelisah. cerita ke sana ke kemari tak kunjung membuat hati tenang,"
Pernah merasa begini??

Mungkin pernah merasakannya ya..


Saya pun pernah. Luntang lantung nyari tempat buat cerita, sampai berbudah mulut pun kadang  masih saja belum bisa tenang. Sudah nyari metode ini itu, nyanyi , apalagi ya , teriak teriak, ke semuanya itu bukanlah sebuah solusi paten yang mampu membuat hati kembali tenang. 


Pernah bertanya kah pada hati yang sedang di landa  resah gelisah itu???

Apakah yang sebenarnya mencemari hati hingga resah dan gelisah menyelimuti dan tak mau kunjung pergi??
 Dialah DOSA, dosalah yang membuat hati gelisah. Resah kepayahan dan tersiksa. Perkara inilah yang jarang teranalisis oleh saya ( ntahlah mungkin sahabat pembaca tak seperti saya).

Dalam hadits, dari Nawas bin Sam’an, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa. Ketika kejelekan tersebut dilakukan, tentu engkau tidak suka hal itu nampak di tengah-tengah manusia.”( HR. Muslim no. 2553.)

Dari cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al Hasan bin ‘Ali, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tinggalkanlah yang meragukanmu dan beralihlah pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.”( HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1/200. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ternyata dosa lah yang membuat hati resah. Baru sadar ya???? Apa memang sudah sadar??? Bukankah kita senantiasa berbuat dosa sepanjang siang dan malam?  


Apabila engkau tahu, maka itulah musibah

Dan jika ternyata engkau tidak tahu, maka musibahnya lebih besar

An Nawawi menjelaskan “Dosa selalu menggelisahkan dan tidak menenangkan bagi jiwa. Di hati pun akan tampak tidak tenang dan selalu khawatir akan dosa. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, 1392, 16/111.)


Jangan jauh jauh deh. Saya saja baru sadar baru baru ini, dalang yang membuat hati resah kepayahan. dan setiap kali saya resah saya bertanya “ tadi saya melakukan apa? Berbuat apa dosa apa?, dan ternyata benar saya telah melalaikan kewajiban saya. Astagfirullah . Dosalah yang membuat titik titik hitam dalam hati, semakin banyak dosa yang di perbuat semakin banyak titik titik hitam yang menutupi hati kita. Sehingga hati menjadi kotor dan sulit bagi kita untuk mendapatkan hidayah dan petunjuk dari Allah. Allah Ta’ala berfirman,

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

Jika hati sudah semakin gelap, maka amat sulit untuk mengenal petunjuk kebenaran.” (Ad Daa’ wad Dawaa’, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan pertama, 1424 H, hal. 107.)

Maka ketika kita mengingat dosa , dan mengakui dosa tersebut, kemudian meminta ampun maka itu jalan bagi kita untuk menghapus setitik demi setitik noda hitam yang ada dalam hati.


Saya mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang kuasa mengampuni melainkan Engkau semata(HR. Bukhari: 6306.)


Tulisan kali ini mengajak dan menggugah diri sendiri khususnya untuk terus peka terhadap kelakuan sendiri, dan memperbaiki diri. Kita tak mungkin berlepas dari dosa, karena kita hanya insan biasa yang memang diciptakan dengan kelemahan yang selalu lupa dan salah. Tapi dengan karakteristik begitu kita berputus asa lantas membiarkan diri dalam berkubang dosa, justru karena kelemahan ini kita bisa menjadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah


Jadi kita tahu kana pa yang membuat hati dirundung resah gelisah? Ternyata si Dosa heheh…

Oke semoga ilmunya bermanfaat. Senang bisa berbagi. Jika ada salah kata mohon koreksi.

Di tutup dengan ucapan hamdalah


dan doa


Allahumma inni as-aluka fi’lal khoiroot, wa tarkal munkaroot.

 Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mudah melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan berbagai kemungkaran.
(HR. Tirmidzi no. 3233, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)


*sore hari sebelum berangkat mengajar