5/02/2012

Bahaya Penyakit ‘ain

“penyakit ‘ain itu benar adanya, ia (muncul)  bersama kehadiran setan dan kedengkian anak keturunan adam”(Al bukhari 10/203)
Sahabat Muslimah yang di cintai Allah….
Pernahkah sahabat menemukan peristiwa demikian
Suatu pagi keponakan saya yang masih berusia 7 bulan bermain bersama sang ibu keluar rumah, sambil memberi makan sang anak. Tak lama banyak tetangga dan keluarga terdekat turut keluar saat mendengar ocehan si kecil, si kecil pun di kerumuni oleh orang orang
“wah lucu banget si dede, pipinya gemil” ujar Si A
“iya ih..menggemaskan ..”ujar si B menambahkan .
“iya soalnya dia nya kuat minum susunya” ibunya semakin menambahkan .
Tak lama setelah itu sang anak sakit, dan sang ibu tidak tahu bahwa salah satu sebabnya karena lontaran pujian pujian tadi, sedikit dari kita yang tahu hal ini.  dan yang muncul setelah itu sang ibu berkata
“jangan puji puji lagi, ntar si kecil sakit” namun dia tak tahu mengenai penyakit ‘ain , yang akan saya paparkan kemudian.
Banyak kalimat kalimat serupa lainnya. Tapi kita patut berhati hati.

Sahabat yang dirahmati Allah.
Memiliki anak yang sehat, lucu menggemaskan merupakan salah satu kenikmatan yang didambakan setiap orang tua, tidak hanya anak yang sehat, barang kali setiap insan pun mengharapkan mendapakan kenikmatan lainnya, seperti rumah mewah, mobil, tanah, hewa dan lain halnya. Kenikmatan kenikmatan itu ada bersamaan dengan datangnya dengki seorang manusia
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap yang memiliki kenikmatan pasti ada yang iri (dengki).” (Shahihul Jami’ 223. Lihat majalah Al Furqon)
Tahukah sahabat, bahwa iri( dengki) atau hasad merupakan penyakit hati merupakan  yang sering menyerang hati manusia.tidak ada yang selamat kecuali sedikit.
Oleh karena itu dikatakann oleh syaikhul islam ibnu taimiyyah dalam kitab As-suluk
Tiada jasad yang selamat dari hasad
Hanya saja, orang yang hina menampakkannya
Sedangkan orang yang mulia menutupinya
Maksud  orang yang hina menampakkannya adalah dia yang menceritakan saudaranya yang muslim tanpa disertai dengan dzikir kepada Allah SWT
Ibnu Qoyyim rohimahullah dalam kitab Tafsir Surat Muawwadzatain berkata, “Bahaya dari pandangan mata dapat terjadi ketika seseorang yang berhadapan langsung dengan sasarannya. Sasaran tukang pandang terkadang bisa mengenai sesuatu yang tidak patut didengki, seperti benda, hewan, tanaman, dan harta. Dan terkadang pandangan matanya dapat mengenai sasaran hanya dengan pandangan yang tajam dan pandangan kekaguman.”
Kenikmatan –kenikmatan yang kita miliki akan menimbulkan kedengkian seseorang , kekaguman seseorang dan pujian. Tak lain, tak bukan, pujian dari orang lain itu bisa membawa 'bibit penyakit' kalau boleh disebut demikian. Ia adalah penyakit yang dinamakan dengan 'ain (pandangan mata).
Penyakit ‘ain atau pandangan mata adalah pandangan seseorang terhadap sesuatu yang dianggap menakjubkan disertai dengan rasa dengki, sehingga mengakibatkan bahaya terhadap yang dipandangnya. ‘Ain juga dapat terjadi dari pandangan yang penuh kekaguman tanpa disertai rasa dengki, bahkan bisa terjadi dari orang yang shalih. Sebagaimana pernah terjadi pada sahabat Nabi, Sahl bin Hunaif yang terkena ‘ain dari sahabat yang lain, yaitu Amir bin Rabiah. (dari tulisan 'Penyakit 'Ain', sila diklik)
Perhatikan kalimat: ....  ‘Ain juga dapat terjadi dari pandangan yang penuh kekaguman tanpa disertai rasa dengki, bahkan bisa terjadi dari orang yang shalih'. Ternyata penyakit 'ain, bisa terjadi lantaran puji-pujian yang diberikan, bukan karena dengki. Akan tetapi ekspresi kekaguman, bisa menyebabkan sakit si anak. Maka itu, seperti yang sudah disinggung di awal, anda wajib berhati-hati.

Berkata ibnu hajar : “Sebagian orang ada yang kurang dapat memahami penyakit ‘ain ini, sehingga mereka bertanya: Bagaimana ‘ain bisa bereaksi dari jarak jauh sampai mengakibatkan kemudharatan bagi pada oaring yang terkena ‘ain?”
Banyak orang yang langsung jatuh sakit hanya sekedar di lihat dan kekuatan tubuhnya melemah. Semua itu terjadi melalui efek yang Allah jadikan didalam ruh1. Dan karena ruh itu berkaitan erat dengan mata maka perbuatan ( menyebabkan sakit) itu dinisbahkan kepada mata. Pdahal ukan mata itu sendiri yang memebrikan efek. Yang memberikan efek itu tidak lain adalah ruh. Jadi yang keluar darimata orang yang menyebabkan  penyakit adalah ‘ain  adalah seperti boomerang yang tidak nampak oleh mata. Bila boomerang itu menyerang badan orang yang tidak  nampak oleh mata . bila boomerang itu menyrang badan orang yang tiak terlindungi (dengan dzikir) maka ia akan melukainya , bahkan boomerang itu akan kembali berbalik kepada pelemparnya , sama seperti boomerang yang kasat mata (fathul Bari karya ibnu hajar 10/212)
Jadi yang keluar dari ‘ain adalah penggamabran kata kata dari penjabaran apa yang dilihat oleh mata, baik diiri dengan hati dengki, atau kekaguman yang tanpa rasa dengki dalam hati, namun tidak diiringi dnegan dzikir kepada Allah, sehingga setan menyerang terhadap apa yang menjadi penggambaran tadi.

Siapa saja yang bisa menimpakan penyakit ‘ain ini????
Diantaranya orang yang berhati jahat dan orang yang berhati baik
Bagi orang yang tidak beriman kepada takdir Allah SWT, dalam keadaan keimanan yang amat lemah, sangatlah dekat sebuah kedengkian (hasad) kepada saudaranya yang diberikan nikmat oelh Allah SWT, dan sangat inginnya ia melihat kenikmatan itu hilang dari sadaranya tersebut . sehingga keluarlah ucapan-ucapan yang menyebut nikmat saudaranya itu tanpa disertai berdzikir kepada Allah SWT , tanpa mendoakan kebaikan kepada orang tersebut, lalu setan pun menyambar apa apa yang menjadi penggambaran mata  melalui kata kata.kemudian dengan sengaja menyakiti fisik dan anngota badan yang terkena ‘ain menyempitkan hati dan rasa takut.
Bagi yang hatinya baik ,saat setan menyambar ucapan-ucapan penggambaran tadi, ketika itu ‘ian yang terjadi hanya sekedar menggangggu saja, dan dengan izin Allah SWT , ia mudah diobati..
Di dalam fathul bari 10/215 dan hendaknya diketahui bawha seseorang dapat mengakibatkan bhay bagi saudaranya , dengan hanya satu sebab, yaitu melontarkan ucapan yang menggambarkan nikmat yang ada pada orang itu , tanpa di sertai dengan dzikir kepada Allah SWT perbuatan ini merupakan racun perkataan. Ibnu hajar  ra , mengatakan “ain itu muncul di barengi dengan rasa kagum, wlaupun tanpa di sertai rasa hasad. Dan bisa saja muncul dari orang yang  memiliki kecintaan terhadap  orng yang dikagumi , dan dari orang shalih. Bila ada sesuatu  yang membuatnya kagum, seharusnya ia berdo’a memohon keberkahan untuk orang yang membuatnya kagum.
Dari Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif menyebutkan bahwa Amir bin Rabi’ah pernah melihat Sahl bin Hunaif mandi lalu berkatalah Amir, “Demi Allah, Aku tidak pernah melihat (pemandangan) seperti hari ini, dan tidak pernah kulihat kulit yang tersimpan sebagus ini.” Berkata Abu Umamamh, “Maka terpelantinglah Sahl.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Amir. Dengan marah beliau berkata, “Atas dasar apa kalian mau membunuh saudaranya? Mengapa engkau tidak memohonkan keberkahan (kepada yang kau lihat)? Mandilah untuknya!” Maksudnya Nabi menyuruh Amir berwudhu kemudian diambil bekas air wudhunya untuk disiramkan kepada Sahl dan ini adalah salah satu cara pengobatan orang yang tertimpa ‘ain bila diketahui pelaku ‘ain tersebut (*). Maka Amir mandi dengan menggunakan satu wadah air. Dia mencuci wajah, kedua tangan, kedua siku, kedua lutut, ujung-ujung kakinya dan bagian dalam sarungnya. Kemudian air bekas mandinya itu dituangkan kepada Sahl, lantas dia sadar dan berlalulah bersama manusia.” (HR. Malik dalam al Muwaththa 2/938, Ibnu Majah 3509, dishahihkan oleh Ibnu Hibban 1424. sanadnya shahih, para perawinya terpercaya, lihat Zaadul Ma’ad tahqiq Syu’aib al Arnauth dan Abdul Qadir al Arnauth 4/150 cet tahun 1424 H. Lihat majalah Al Furqon).

(*) Kata mandi yang ada di sini maksudnya adalah berwudhu sebagaimana disebutkan Imam Malik dalam kitab Al Muwattho. Wallahu a’lam.
Tanda-Tanda Terkena ‘Ain

Tanda-tanda anak yang terkena ‘ain di antaranya adalah menangis secara tidak wajar (bukan karena lapar, sakit atau mengompol), kejang-kejang tanpa sebab yang jelas, tidak mau menyusu pada ibunya tanpa sebab, atau kondisi tubuh sang anak kurus kering dan tanda-tanda yang tidak wajar lainnya.

Sebagaimana dalam hadits dari Amrah dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata, “Pada suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk rumah. Tiba-tiba beliau mendengar anak kecil menangis, lalu Beliau berkata,
 “Kenapa anak kecilmu ini menangis? Tidakkah kamu mencari orang yang bisa mengobati dia dari penyakit ‘ain?” (HR. Ahmad, Baqi Musnadil Anshar. 33304).

Nah bagaimana agar kita bisa menghindari bahaya ‘ain ini.
maka ketika takjub akan sesuatu kita juga dapat mengucapkan doa berdasarakan surat al kahfi ayat 39
“Sungguh atas kehendak Allah-lah semua ini terwujud.”
Ada pula do’a yang biasa diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan untuk Hasan dan Husain, yaitu:“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari godaan setan, binatang beracung dan dari pengaruh ‘ain yang buruk.” (HR. Bukhari dalam kitab Ahaditsul Anbiya’: 3120)
Atau dengan doa,
Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang telah sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.” (HR. Muslim 6818).
Kemudian, terdapat pula do’a yang dibacakan oleh malaikat Jibril alaihissalam ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapat gangguan setan, yaitu:
“Dengan menyebut nama Allah, aku membacakan ruqyah untukmu dari segala sesuatu yang menganggumu dari kejahatan setiap jiwa dan pengaruh ‘ain. Semoga Allah menyembuhkanmu.”
salah satu cucu Rasulullah dari Fatimah ra, al-Imam Ja’far Sadiq berkata: barang siapa memiliki sesuatu yang disenanginya dan tidak menginginkan sesuatu itu rusak atau hilang maka ucapkanlah : Masya Allah La quwwata illa billah.


Perlulah kita selalu mengingat, bahwa sekalipun kita mengetahui bahaya ‘ain memiliki pengaruh sangat besar dan berbahaya, namun tidaklah semua dapat terjadi kecuali dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kita sebagai orang Islam tidaklah berlebihan dalam segala sesuatu. Termasuk dalam masalah ‘ain ini, maka seseorang tidak boleh berlebihan dengan menganggap semua kejadian buruk berasal dari ‘ain, dan juga tidak boleh seseorang menganggap remeh dengan tidak mempercayai adanya pengaruh ‘ain sama sekali dengan menganggapnya tidak masuk akal. Ini termasuk pengingkaran terhadap hadits-hadits shahih Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Sikap yang terbaik bagi seorang muslim adalah berada di pertengahan, yaitu mempercayai pengaruh buruk ‘ain dengan tidak berlebihan sesuai dengan apa yang dikhabarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.


Kesimpulan :
Saat kita melihat kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain maka , doakanlah agar bertambah kebaikan, atau ucapkan “masya Allah tabarakallahu” atau masya Allah

Sumber :
-majalah jurnal  Asy syifa , gaya hidup sehat islami dan alami edisi 02 1432/2011. hal 14-26

Maraji’:
  • Majalah Al Furqon edisi 4 Tahun V/Dzulqo’dah 1426.
  • Doa-Doa dan Ruqyah dari Al Qur’an dan Sunnah. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al Qahthani. Media Hidayah. 2004.
  • Tafsir Surah Muawwadzatain. Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah. Akbar. 2002.
  • Tumbuh di Bawah Naungan Ilahi. Syaikh Jamal Abdul Rahman. Media Hidayah. 2002.
-http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/3081/Awas_Pujian_Orang_Lain_ke_Anak_Anda_Bisa_Membuatnya_Sakit